17 April 2013

Minta maaf dan Memaafkan

Posted by Fadly Indrawijaya , 20 Komentar

‫بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Minta maaf
Minta Maaf | devikasr22.blogspot.com
Fadly berlari membawa bolanya, sore ini cuaca memang sangat mendukung untuk bermain bola di lapangan namun karena sudah tidak sabar bermain, ia memiih menurunkan bolanya dan menggirinya ke lapangan, ketika melihat lapangan semakin dekat ia langsung menendangnya ibarat seorang yang sedang mengeksekusi sebuat tendangan penalty, bola itu pun terlempat, melesat melewati sebuah pekarangan rumah.

“Prakk” seperti seorang kipper, jendela kaca itu baru saja mencoba menghentikan laju bola namun ia akhirnya pecah berkeping-keping. Sesaat Fadly hanya terdiam melihat pemandangan yang baru saja terjadi dihadapannya, ada rasa takut yang tiba-tiba menjalar di tubuhnya karena ia tahu bahwa Pak Karto, pemilik rumah yang baru saja ia pecahkan kaca jendelanya dikenal sebagai orang yang galak, belum lagi postur tubuhnya yang besar, secara refleks Fadly segera bersembunyi diantara tanaman  pagar.
Benar saja, sesaat kemudian pintu itu terbuka, sosok tinggi besar dan agak gemuk muncul dengan membawa bola yang baru saja memecahkan kaca jendelanya, Fadly semakin takut ketika sosok itu semakin mendekat dan terdengar jelas omelannya seperti seekor singa yang mengaum namun mengira bahwa pelaku perusak kaca rumahnya sudah berlari karena ketakutan, ia kembali masuk ke dalam rumahnya. Fadly menghembuskan nafas dengan lega.

Selama ini Fadly selalu belajar bahwa ketika seseorang berbuat salah, ia harus bertanggung jawab dan mau meminta maaf tetapi apa yang baru saja terjadi dihadapannya membuatnya sangat takut, meminta maaf pada seekor singa yang mengamuk ibarat daging segar yang masuk ke sarang singa. Ia akhirnya memutuskan untuk pulang namun ditengah perjalanan hatinya terus gelisah, “Aku harus minta maaf tidak peduli apakah aku harus menjadi objek marahnya, ini memang salahku” ucapnya pada diri sendiri. Fadly segera memutar langkah dan berjalan perlahan.

“Tok… tok… tok…” Fadly mulai mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian sosok tinggi besar muncul dari  balik pintu itu. Raut kemarahan masih terlihat terukir di dahinya atau memang permasalahan hidup yang membuatnya seperti itu. Fadly terdiam, rasa takut mulai menjalar di tubuhnya.
“Ada apa yah nak?” Tanya Pak Karto sambil berusaha tersenyum.
“See… se..benarnya saa…ya … sebenarnya saa…yaa…yang pecahkan jendela bapak” Fadly menjawab dengan terbata-bata, ia tak berani memandang wajah Pak Karto yang pastinya akan sangat marah.
“Oooo…. Jadi kamu rupanya yang tadi pecahkan jendela terus lari?” Suara pak Karto meninggi, ada ketegasan ketika mengucapkan kata-kata itu. Ia berlari masuk kedalam, Fadly hanya terdiam menanti hal apa yang akan terjadi dengan dirinya, kakinya sangat dingin meskipun pikirannya berpikir untuk segera melompat dan berlari sebelum sosok pak Karto muncul dari dalam rumahnya. Ia menelan ludah, apakah pak Karto mengambil cambuk. Fadly belum selesai dengan gejolak pikirannya ketika mendengar langkah kaki pak Karto yang semakin dekat.
“Jadi ini punya kamu?” Tanya pak Karto sambil menunjukkan sebuah bola di tangannya. Fadly memandang sesaat kemudian tertunduk dan mengangguk. Namun karena tidak menerima jawaban melalui anggukan, Pak Karto mengulang pertanyaannya dengan lebih keras.
“Jawab! ini punya kamu?” Pak Karto seakan membentak.
“Ia pak, itu bola saya” Fadly menjawab dengan perlahan sambil terus tertunduk.
“Nah, gitu dong jangan ngangguk-ngangguk gitu, kayak orang gak bisa bicara aja…” ucap pak Karto sambil menepuk punggung Fadly dengan perlahan. “… lain kali lebih berhati-hati yah. Kan ada lapangan, kok malah disini” ia melanjutkan ucapannya sambil tertawa. Fadly heran dengan sikapnya, baru saja Pak Karto  membentak dengan keras namun tiba-tiba suaranya terdengar ramah. Dengan sedikit ragu Fadly memberanikan diri bertanya.
“Bapak tidak marah?”
“Ha… Ha… Ha…” Pak Karto tertawa keras. ”… Siapa yang gak marah kalau tiba-tiba saja kaca jendelaku dipecahkan oleh pengecut yang tiba-tiba lari bersembunyi” Fadly tertunduk mendengar kata pengecut yang diucapkan pak Karto untuk menyebutnya.
“Nak, bersembunyi itu tidak selalu menyelesaikan masalah tetapi syukurlah sekarang nak …. Sapa namanya?” Pak Karto tiba-tiba memotong kata-katanya dengan sebuah pertanyaan.
“Fadly pak”
“Syukurlah karena nak Fadly sudah mau mengakui kesalahannya seperti seorang ksatria. Sebagai ganti rugi untuk kaca jendela bapak, gimana kalau kapan-kapan ajak bapak juga main bola. Tua-tua seperti ini, bapak dulu pemain bola yang hebat loh” Pak Karto tersenyum dan menyerahkan bola yang sejak tadi ia pegang. (FadlyBiluping)

Memaafkan adalah memberi ruang (di hati) pada rasa benci.
A Moment to Remember

Apa yang bisa kita petik dari sepenggal kisah diatas? Setidaknya ketika menulis kisah diatas, ada 2 hal yang ingin kuberikan pada pembaca yaitu meminta maaf dan memaafkan. Pertama, mari kita merenuni diri kita sendiri, ada berapa banyak kesalahan yang telah kita lakukan mulai dari kesalahan kecil hingga kesalahan yang sangat besar namun karena ego atau ketakukan kita yang besar membuat kata maaf itu tak terucap dari bibir. Betapa banyak orang yang merasa derajatnya lebih tinggi dari orang lain sehingga merasa gengsi mengucapkan maaf. Berapa banyak atasan yang malu mengucapkan maaf pada bawahannya hanya karena faktor jabatan. Bahkan berapa banyak seorang guru yang tidak meminta maaf pada muridnya sendiri karena merasa bahwa dirinya paling benar. Sampai kapan kita akan terus malu ucapkan maaf padahal maaf itu tidak memandang tingkat atau status.

Sekarang mari kita merenungi kata memaafkan. Ada berapa banyak orang yang telah meminta maaf pada kalian namun pintu maaf itu tidak juga terbuka? Ada berapa banyak orang yang akhirnya putus komunikasi hanya karena ego tidak ingin memaafkan. Ada sebuah kutipan dari film berjudul “A Moment to Remember” yang menjadi favoritku tentang memaafkan, bunyinya seperti ini: “Memaafkan adalah memberi ruang (di hati) pada rasa benci”. Artinya kurang lebih seperti ini, ketika seseorang memaafkan, ia sebenarnya membuka hatinya menerima kebencian orang.

Sampai kapan kita akan membiarkan ego untuk meminta maaf atau memaafkan? Apakah kita akan terus membiarkan kata maaf itu menjauh dari kehidupan? Diam tak selalu bisa menyelesaikan masalah. Mungkin ini dulu tulisanku tentang minta maaf dan memaafkan, Semoga tulisan ini bermanfaat untuk pembaca, jangan lupa untuk di share dengan teman-teman yah :)

foto fadly
Penulis: Fadly Indrawijaya
Manusia sederhana dengan impian luar biasa. Penikmat hujan, segelas teh hangat dan buku. Sangat tertarik pada astronomi, teknologi, fotografi, jurnalis, dan alam. Selengkapnya >>

20 comments:


bingungBingung? Jangan ragu untuk Bertanya | Komentar

Kami menghargai setiap tanggapan pembaca.
Kami akan berusaha merespon tanggapan tersebut secepatnya, اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

Catatan
1. Jangan SPAM yah....
2. Tidak menggunakan link hidup
3. Silahkan berkomentar dengan sopan


  1. Memaafkan itu adalah sifat yang muliaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak hanya memaafkan tapi juga meminta maaf :)

      Delete
  2. siapa kita ya, yang tidak mau memafkan kesalahan orang lain. Fadli sudah berani mengakui kesalahannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fadly nya cuma nama untuk ceritanya mbak, bukan tokoh aslinya :)

      Delete
  3. bagi saya, mau meminta maaf, plus mau memaafkan, adalah salah 1 kategori seseorang bisa disebut bersifat dewasa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mbak, tapi dewasa menurutku adalah yang udah bisa singkirkan egonya, bukan dewasa dalam arti umur :)

      Delete
  4. sama-sama penting.. yg minta maaf dan juga yg memberi maaf.. sama-sama bernilai kebaikan ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keduanya memang saling terkait satu sama lain meskipun sebenarnya bisa terpisah satu sama lain :)

      Delete
  5. Pengalaman Fadly sendiri nih??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan kok mbak, cuma sengaja tulis nama sendiri biar orangnya eksis juga dalam cerita :)

      Delete
  6. Butuh jiwa yang besar untuk bisa meminta maaf dan memaafkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tanpa jiwa besar, seseorang akan tetap pada egonya sendiri, tetap pada rasa malunya untuk meminta maaf, dan tetap pada dendamnya untuk tidak memberi maaf :)

      Delete
  7. memang kedua nys mulia tapi mnurutku, memaafkn pling sulit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang betul mbak, memaafkan itu paling sulit soalnya terkadang masih ada dendam yang tersisa dan itu sangat sulit untuk di hapus :)

      Delete
  8. Biasanya ketika seseorang sudah berada di atas, susah meminta maaf padahal jelas2 dirinya yang salah.... :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu namanya kesombongan, merasa diri diatas orang lain sehingga malu untuk melakukan hal yang dianggap menurunkan derajatnya :D

      Delete
  9. Minta maaf sih gampang, memaafkan itu yang susah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama dengan kata mbak vina tadi, memafkan itu memang sulit karena kadang masih ada sedikit dendam yang tersisa di hati :)

      Delete
  10. satu lagi jangan suka marah juga... ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya setelah yang bersalah meminta maaf, orangnya tidak akan marah lagi kok :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

BiluPing © 2009 - 2016.

Home | | Contact | FAQ | BiluPing Google+