16 January 2013

Pulang Kampung

Posted by Fadly Indrawijaya , 19 Komentar

‫بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Pulang Kampung
Pulang Kampung | Ilustrasi

Sore ini, hujan kembali menemaniku melewati sore, dinginnya menggodaku untuk tidur siang namun aku mengurungkan hal tersebut. Blog ini jarang update seperti biasanya sehingga aku memutuskan untuk menulis kembali. Sekedar info, aku sering membuat sebuah catatan singkat di handphone (sms) tentang kejadian yang terjadi sekitarku. Sesuai judul tulisan ini, aku akan menceritakan sedikit potongan kisah perjalananku mudik ke kampung halaman.

Informasi tambahan, saat ini aku tinggal di Makassar (Sulawesi Selatan) sedangkan kampung halamanku adalah sebuah daerah yang sangat indah (menurutku) yang terletak di sebelah utara ibukota propinsi, jaraknya lebih dari 100 Km, itulah Kabupaten Barru. Kalau masalah objek wisatanya, aku sudah pernah menuliskannya, meskipun baru menulis satu objek (Baca: Objek Wisata Pantai Kupa).

Kita kembali pada kisahku, mudik kali ini (seperti biasanya) aku memilih mudik malam, selain menghindari macet, kondisi cuacanya juga mendukung.

9.52
Aku akhirnya bertemu dengan sang sopir setelah sebelumnya harus naik angkot karena kata sopirnya, dia tidak bisa menjemput. Ia sempat beberapa kali menelpon dengan ekspresi kekesalan karena katanya lama menunggu padahal itu bukan kesalahanku, entah kenapa saat itu pete-pete (angkot) agak jarang padahal belum jam 10. Di dalam mobil sudah ada 2 orang penumpang yang duduk di bangku tengah, aku ikut duduk dibangku tengah juga karena aku berpikir masih akan ada penumpang lainnya. Mobil akhirnya melaju memasuki sebuah halaman rumah sakit. Kami harus menunggu agak lama, ada perbedaan sikap ketika orang-orang tersebut terlambat datang jika dibanding dengan sikap marah sopir ketika menungguku. Ada 2 orang yang dijemput disana, aku memutuskan duduk di kursi belakang karena kebetulan sedang kosong. Orang pertama duduk disamping sopir dan yang lainnya duduk ditempatku sebelumnya. Mobil kembali melaju ditengah padatnya lalu lintas kota Makassar.

10.57
Setelah melaju lebih dari sejam, mobil akhirnya berhenti di Maros, Kota yang dikenal dengan objek wisatanya “Bantimurung” memang jadi salah satu tempat persinggahan mobil-mobil yang baru saja meninggalkan kota Makassar. Sejak kecil, aku mengenal Maros dari roti khasnya yaitu “Roti Maros” karena itulah sehingga Maros menjadi salah satu tempat persinggahan namun seiring waktu, akhirnya disana tak hanya dijual roti Maros saja tapi juga berbagai macam kue dan buah-buahan.

Aku tidak melewatkan waktu itu, aku segera turun dari mobil, bergegas ke kamar kecil, membeli roti dan susu kedelai soalnya sudah lama tidak mencicipinya, seingatku terakhir kali minum susu kedelai itu waktu SD. Setelah penumpang  kembali duduk ditempatnya masing-masing, mobil kembali melaju di jalurnya seperti air yang mengalir, aku menyandarkan kepalaku di kursi lalu memandang kedepan. Di dalam mobil, siaran radio lokal memecahkan kesunyian perjalanan malam ini.

Sesaat aku menoleh pada kedua sisi jendela, jalan masih ramai oleh pedagang dan toko yang masih berusaha mencari rezeki di malam yang mulai dingin ini. Hidup itu butuh perjuangan yang berat.

11.40
Aku telah melaju dijalan kota Pangkep. Aku lebih mengenal kota ini dari barisan penjual “Dange”. Dange itu adalah nama kue, insyaallah lain kesempatan aku akan menulis tentang Dange. Jalan mulai tampak sepi, mobil truk mulai memenuhi jalan dengan hiasan lampu warna-warninya seakan-akan menutupi kesunyiannya menembus gelapnya malam. Angin dingin yang menerobos celah jendela mulai menggelitik tubuhku yang baru saja sembuh dari sakit. “Semoga aku tidak masuk angin lagi” harapku. Beberapa kali aku harus menaruh telapak tanganku didepan bibir, menahan kantuk. Lagu “Terlanjur Sayang” yang dinyanyikan oleh Memes mulai mengalun merdu dalam kesunyian perjalanan kami, lagu ini entah populer tahun berapa namun ia begitu akrab ditelingaku sejak aku masih kecil.

12.08
Sesaat sebelum mencapai batas kota, Aku akhirnya tiba dipusat penjualan Dange. Suasana yang tadinya sepi mendadak ramai oleh barisan warung. Tempat ini juga merupakan salah satu tempat persinggahan mobil.

12.17
Batas kota dengan pemandangan pinggir laut muncul didepanku. Sesaat kurasakan hembusan anginnya. Aku akhirnya tiba di kota kelahiranku. Suasana pinggir kota tampak sepi, mungkin karena jam telah menunjukkan pukul 12 lewat. Beberapa truk terlihat berhenti dipinggir jalan untuk beristirahat. Hanya beberapa lampu yang nampak terutama dari lego-lego rumah warga. Lego-lego itu bahasa bugis untuk teras atau beranda rumah :)

Mobil akhirnya melambat dan lalu berhenti menurunkan 2 orang penumpang yang tadi lebih dulu berada di mobil sebelumku. Setelah itu kembali melaju beberapa ratus meter sebelum berbelok memasuki daerah persawahan lalu menurunkan 2 orang lainnya (yang tadi dijemput di rumah sakit). Sopir menyuruhku berpindah ke kursi tengah sebelum mobil melanjutkan perjalanan menembus jalan sunyi (karena tidak melewati jalan poros). Suasana jalan gelap dengan pemandangan area persawahan namun sesekali tampak juga rumah-rumah penduduk.

12.40
Mobil akhirnya kembali melaju di jalan poros dan mulai menyebrangi jembatan Bottoe, beberapa penjual ikan kering berjejer di sisi kananku sedangkan disisi lainnya berbaris warung makan..

12.44
Sepasang tugu kembali menyambut sebagai pertanda bahwa kami telah melaju di jantung kota. Jalan yang tadinya 2 jalur melebar menjadi 4 jalur, ditengahnya sebuah tiang dengan 2 cahaya berdiri berjejer menunjukkan terangnya.

12.51
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di rumah dengan selamat.

Apa hikmah dari kisah-kisah diatas? Aku juga sebenarnya bingung. Mungkin pembaca bisa menangkap makna itu lebih baik dariku. Aku hanya ingin berbagi kisah, berbagi ilmu dan mengajarkan sedikit tentang Bahasa Bugis. Makasih sudah membaca :)

foto fadly
Penulis: Fadly Indrawijaya
Manusia sederhana dengan impian luar biasa. Penikmat hujan, segelas teh hangat dan buku. Sangat tertarik pada astronomi, teknologi, fotografi, jurnalis, dan alam. Selengkapnya >>

19 comments:


bingungBingung? Jangan ragu untuk Bertanya | Komentar

Kami menghargai setiap tanggapan pembaca.
Kami akan berusaha merespon tanggapan tersebut secepatnya, اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

Catatan
1. Jangan SPAM yah....
2. Tidak menggunakan link hidup
3. Silahkan berkomentar dengan sopan


  1. pete-pete, lego-lego, kupu-kupu :p

    hehehe..

    sayang foto2nya ga diupload.. kan pengen juga liat pemandangan pantainya yang edisi terbaru..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan perjalanannya malam,jadi kameranya juga gelap kalau ambil gambarnya.apalagi sampai perbatasan kota pas jam 12 malam :)

      Delete
  2. Alhamdulillah selamat sampai kota Barru sobat,,,saya tunggu yaa oleh olehnya sobat Fadly...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ole-ole apa nih sobat?pulang dulu baru balik lagi ke Makassar :)

      Delete
  3. Replies
    1. Jalan keluar-keluar mbak.. apalagi kondisi cuacanya tidak menentu :)

      Delete
  4. Replies
    1. Setuju.... tapi harus direncanakan dengan baik :)

      Delete
  5. Nikmatin aja suasana kampung halaman kak. Ngomong-ngomong, foto itu kayak foto pohon sakura di jepang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan di gambarnya tertulis ilustrasi :)

      lama baru mampir lagi kesini yah sobat...

      Delete
  6. wah saya udah lama nggak pulkam inih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa tidak pulkam Ninda? Mmang lg sibuk apa? :)

      Delete
    2. kasian ninda ga punya rumah, dia kan kera sakti yg sibuk mencari kitab suci, fad, hahaha...
      kamu ga coba nulis buku travelling? ayo dicoba :D

      Delete
    3. Mbak bisa aja... semoga aja Ninda cepat nemuin kitab sucinya yah :D
      Sebenarnya niatnya memang gitu mbak tapi latih kemampuan dulu sebelum action :D

      Delete
  7. Kenapa ea kaLau mudik suka macet??

    mudik lebaran tahun kemarin jh di bus hampir 1 hari 1 malem, tapi seru asik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu karena semuanya beramai-ramai mau pulkam... belum lagi tingginya penjualan kendaraan pribadi jadi otomatis kendaraan akan semakin meningkat...

      Delete
  8. yang pasti pulang kampung selalu menguatkan kenangan kita bahwa kita tak boleh lupa asal usul kita dari mana.....selamat menikmati pulang kampungnya sobat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju sekali teman, kita tak boleh menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya... :)

      Delete
  9. kebawa suasanya ilustrasi pulang kampungnya aku.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

BiluPing © 2009 - 2016.

Home | | Contact | FAQ | BiluPing Google+