20 September 2012

Bakso Kesabaran

Posted by Fadly Indrawijaya , 29 Komentar

‫بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Bakso
Aku melangkah tertatih dibawah sengatan mentari yang membuat tubuhku basah oleh keringat belum lagi rasa lemas yang menyerangku. Kali ini lambungku tidak bisa diajak berkompromi, sejak tadi ia terus saja berdering seperti alarm yang memperingati waktu makan padaku. Langkahku berhenti di depan sebuah gerobak bakso pinggir jalan..

“Mungkin bakso ini bisa menjanggal perutku yang kosong” ucapku pada diri sendiri.

Tak butuh waktu yang lama, aku pun memesan bakso dan memilih duduk dibawah sebuah pohon yang tak jauh dari pedagang bakso tersebut. Selain karena tempat yang disediakan pedagang bakso itu yang berdekatan dengan selokan yang baunya sedikit menyengat, aku merasa dibawah pohon itu lebih sejuk. Beberapa saat kemudian pesananku datang dan dengan cekatan seolah juru masak handal, aku mencampurkan kecap dan sambal lalu mengaduknya.

Karena makanan panas itu tidak bagus untuk kesehatan gigi, aku memilih untuk membiarkannya sambil terus mengaduknya hingga kini warna kuahnya menjadi merah... 

“Hummm....” gumanku. Air liurku mulai keluar.
“Ting... ting... ting...” Aktifitas mengadukku terhenti sesaat, handphoneku berdering, itu dari sahabatku Lulu.
“Halo.... lagi dimana?” teriaknya. Ia tahu bahwa handphoneku mengalami sedikit masalah pada speakernya sehingga harus teriak karena kadang suara lawan bicara kurang terdengar.
“Masih sekitar kampus, ada apa?” jawabku datar
“Katanya dosen mau masuk hari ini, jadi jangan pulang dulu yah” ia mencoba menegaskan
“Dosen yang mana? Pasti bercanda kan?” aku meragukan. Biasanya ia sengaja berkata seperti itu agar aku tidak pulang lalu menemaninya mencari buku di depan kampus.
“Tau aja.... jadi temenin yah? ” ucapnya sambil tertawa.
“Iya... iya” jawabku pasrah. Meskipun sedikit terpaksa sih, setidaknya keterpaksaanku itu bisa terhibur dengan sikapnya yang unik dan lucu, sikap yang kadang membuat pengunjung toko buku menoleh kepada kami karena tingkahnya.
“Kamu memang sahabatku yang paliiiiiiiinng baaeekkkk” ucapnya merayu. Aku belum sempat menjawabnya, ia sudah memutuskan telpon tersebut.

Aku melanjutkan perhatianku pada sebuah mangkuk didepanku. Sepertinya baksonya juga sudah agak dingin dan yang terpenting adalah aku sudah tak tahan untuk segera menikmatinya namun lagi-lagi aku menunda untuk menyantapnya. Sejak tadi seorang anak kecil memandangku, mungkin ia juga ingin bakso tersebut. Aku memutuskan untuk memberikannya, selain karena buru-buru mau bertemu dengan Lulu, sepertinya anak itu lebih membutuhkan bakso ini.

“Sini dek” aku memanggilnya. Dengan langkah perlahan, ia mendekatiku. Ia terus terdiam, mungkin masih malu padaku.
“Ini. adek ambil aja baksonya kakak, tenang aja kakak belum makan kok” aku memberikan mangkuk yang berisi bakso tersebut. Ia menerimanya. Namun diluar dugaan, ia langsung menumpahkan isi mangkuk tersebut.
“Kenapa dibuang dek” ucapku dengan rasa penasaran sekaligus sedikit kesal, gimana tidak kesal, ia membuang bakso pemberianku di depan mataku.
“Jangan dimakan om, banyak debunya nanti om sakit perut” ucapnya sambil menunjuk kearah jalan. Memang benar kata anak ini, debu dari jalanan bertebangan kearahku sejak tadi. Seharusnya aku memperhatikan hal ini sebelumnya, tadi aku hanya memperhatikan tempat berteduh dan bau selokan saja.
“Makasih yah dek sudah ingatin kakak....” ucapku sambil mengelus rambutnya yang juga berdebu...ia hanya tersenyum sambil bergegas pergi menuju teman-temannya, mungkin ingin bermain bola karena seseorang diantara mereka memegang bola.
“Adek.... lain kali panggilnya kakak aja yah, belum jadi om-om soalnya” teriakku padanya sambil tersenyum. Ia menoleh dan tertawa. Setelah membayar bakso yang tidak kumakan, aku bergegas menemui Lulu.
“Seharusnya tadi aku dapat diskon 50% soalnya gak makan baksonya” ucapku pada diri sendiri.

Kisah yang baru saja kalian baca adalah sebuah fiksi yang terinspirasi dari kenyataan kehidupan, semoga kisah ini memberikan gambaran untuk para pedagang kaki lima untuk meningkatkan kualitas dagangannya, terutama faktor lokasi.

Sumber gambar:
Bakso : beeglay.multiply.com

foto fadly
Penulis: Fadly Indrawijaya
Manusia sederhana dengan impian luar biasa. Penikmat hujan, segelas teh hangat dan buku. Sangat tertarik pada astronomi, teknologi, fotografi, jurnalis, dan alam. Selengkapnya >>

29 comments:


bingungBingung? Jangan ragu untuk Bertanya | Komentar

Kami menghargai setiap tanggapan pembaca.
Kami akan berusaha merespon tanggapan tersebut secepatnya, اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

Catatan
1. Jangan SPAM yah....
2. Tidak menggunakan link hidup
3. Silahkan berkomentar dengan sopan


  1. bener2 bakso kesabaran :D
    klo gak sabar bsa2 bakso ditumpahin ke abangnya hehehe

    ReplyDelete
  2. oh fiksi, kirain bnrn :)

    lain kali liat2 dulu tmpt ama lingkungannya deh jd biar ga mubazir-ngebuang makanan.

    ReplyDelete
  3. kirain bneran, musti waspada kalo jajan dipinggir jalan :D

    ReplyDelete
  4. @nicamperenique
    Kalau ditumpahin ke abangnya, bisa-bisa masalah baru malah muncul tuh :)

    @Ajeng Sari Rahayu
    Kan anak kecil itu yang mubazir karena membuang makanannya.
    Masalah tempat memang harus diperhatikan karena itu akan berpengaruh pada kesehatan dan kandungan makanan tersebut ^._.^

    @jiah al jafara
    Kalau tidak waspada, bisa-bisa makan debu apalgi saat ini dibeberapa daerah masih musim kemarau jadi debu dijalanan masih sangat tinggi :)

    ReplyDelete
  5. bener sekali tuch, karena sembarangan jajan di pinggir jalan bisa mengakibatkan sakit perut.

    wah dpt inspirasi yg sangat brguna sekali.

    ReplyDelete
  6. @Mbak Iis
    Semoga bisa bermanfaat yah mbak ^._.^

    ReplyDelete
  7. @Iskandar Dzulkarnain
    Fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata :D

    ReplyDelete
  8. banyak pelajaran dari carita itu

    ReplyDelete
  9. ngeliat baksony bikin ngiler..
    mnguji kesabaran saya juga liatnya, pengen icip pas buka ntar aaahhh
    :P

    ReplyDelete
  10. sayang bener mendng buat aku deh baksonya :)

    ReplyDelete
  11. pesan baksonya satu porsi ya Bang...sayurnya yg banyak, gak pake saos dan sambelnya satu sendok saja...#kabuur

    ReplyDelete
  12. Hyaaaa.. Kok dibuang???
    Pas baca ini, pas ngidam bakso juga :|

    Adik adik keci itu perhatian sekali yaa. Luar biasa :)

    ReplyDelete
  13. @win3
    Pelajarannya dipetik aja tapi jangan sampai sengaja numpahin baksonya depan penjualnya yah :)

    @octarezka
    Sabar... sabar... tunggu bedug buka puasa dulu baru boleh ngiler... ntar batal loh :D

    @Lidya - Mama Cal-Vin
    Bang.... pesan bakso satu nih... ada yang kepengen :)

    @Ririe Khayan
    "Bang.... ada lagi nih yang pesan bakso tapi kabur, kayaknya gak mau bayar" :D

    @armae
    Lagi hamil yah mbak? tunggu yah dipesenin bakso dulu
    "Bang... bang... buruan 1 porsi disini, darurat karena lagi ngidam" ^._.^

    ReplyDelete
  14. Wah kalo saya sih jika dalam keadaan lapar kayak gitu bakal saya tumpahin juga, tapi tumpahinnya kedalam perut ini *kepepet* -__-"

    ReplyDelete
  15. maaf, ka. setelah baca, kok aku jadi lapar dan pengen makan bakso yah?
    kirain beneran, ternyata fiksi.
    si anak lucu, numpahin dulu baru bilang kalo baksonya kotor, seandainya kejadian asli, mau tanya, umur anaknya itu kira-kira berapa? terus jadinya kaka makan gak setelah itu? hehe

    ReplyDelete
  16. @Rudy Arra
    Entar dimarahin loh ma anak itu, katanya ntar sakit perut :)

    @Adeayu
    Mungkin umur-umuran anak SD lah... terus masalah makan/tidak, mungkin dengan ekspresi malu2 kucing, numpahin dikit demi dikit baksonya (takut ketahuan mas baksonya) :D

    ReplyDelete
  17. fiksi toh, tak kira beneran. lagian soal pedagang asongan yang suka asal sekarang sudah jamannya, mending nggak usah jajan deh, duitnya ditabung saja buat beli sepeda

    ReplyDelete
  18. Kok gak dikasih saya baksonya mas, saya laper nih. Biar deh meski ada debunya hehehe

    ReplyDelete
  19. si om lucu dah. masa protes dibilang om.. hehehe, si anak itu cerdas juga ya. meski bikin sakit hati awalnya. :D

    ReplyDelete
  20. itu risiko berniaga ditepi jalan, kena benar2 menjaga kebersihan

    ReplyDelete
  21. @Muhammad A Vip
    Setuju mas, kebetulan mau punya sepeda juga sih :)

    @Lozz Akbar
    Mau gimana lagi...keduluan dengan anak kecil itu....

    "Mas...mas,,,, ada pesan 1 mangkuk yah untuk Lozz Akbar"

    @cerita anak kos
    Kan memang belum om-om loh, masih 17 tahun (5 tahun yang lalu) :D

    @KY
    Harus mengutamakan kebersihan utamanya pelanggannya... jangan sampai pelanggan malah sakit setelah mengkonsumsinya :)

    ReplyDelete
  22. Aisshh.. itu bakso nya bener2 bikin saya ngiler.. perut langsung keroncongan mas.. huhuhuhu :'(

    oh ya, salam kenal ya mas :)

    ReplyDelete
  23. @Shovya
    "Mas.... shovya keroncongan nih, pesan bakso satu mangkuk untuknya" :)

    ReplyDelete
  24. aaaiiis itu baksonya menggoda iman kekekeke....

    ReplyDelete
  25. @さくら21Saa
    Wah...wah...wah.. berarti tukang baksonya berhasil menggoda iman nih :)

    ReplyDelete
  26. wah kirain beneran mas :D
    fiksi yg nyata, fiksi yg nyata.. hehe

    ReplyDelete
  27. @Rakyan Widhowati Tanjung
    Fiksi ini seperti pada fiksi yang kutulis sebelumnya http://www.biluping.com/2012/04/emosi-di-angkot.html
    Fiksi yang terinspirasi dari hal nyata

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

BiluPing © 2009 - 2016.

Home | | Contact | FAQ | BiluPing Google+